HomeNews /  IHSG tak punya amunisi lagi
IHSG tak punya amunisi lagi
Tuesday, 29 June 2010 09:23

Selasa, 29/06/2010 08:06 WIB
Analisa Sepekan
IHSG Tak Punya Amunisi
Nurul Qomariyah - detikFinance

<a href='http://openx.detik.com/delivery/ck.php?n=a3db6179&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://openx.detik.com/delivery/avw.php?zoneid=31&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=a3db6179' border='0' alt='' /></a>

Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin masih mampu bertahan di teritori positif berkat sentimen positif dari investor dalam negeri yang melakukan 'bargain hunting' atas saham-saham yang sudah dianggap murah terutama saham disektor pertambangan dan perbankan.

"Akan tetapi perlu dicatat bahwa penguatan indeks tersebut bersifat anomali di tengah koreksi bursa regional dan global, hal ini tercermin dari tipisnya volume dan value transaksi yang tercipta di bursa," ujar Muhammad Fikri, analis menengah dari BNI dalam reviewnya yang dikutip detikFinance, Selasa (29/6/2010).

Oleh karena itu, diluar kondisi anomali tersebut, pergerakan IHSG selama seminggu kedepan diprediksi masih akan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah mengikuti arah pergerakan bursa regional dan bursa dunia.

"Hal ini terutama dipengaruhi oleh minimnya sentimen positif dari hasil pertemuan G-20 serta adanya keraguan terhadap data ekonomi AS terutama mengenai data pertumbuhan pekerjaan, pengangguran serta data belanja konsumen yang akan dirilis akhir pekan ini," urainya.

Ia menjelaskan, dari Toronto, Kanada, pada akhirnya pasar merespons hasil pertemuan G-20 dengan tidak antusias karena pasar menganggap hasil dari pertemuan tersebut belum akan memberikan dampak yang nyata dalam upaya pemulihan ekonomi global dalam waktu dekat ini. Pasar menilai hasil pertemuan G-20 masih memberikan solusi yang bersifat konseptual dan jangka panjang.

Seperti diberitakan dari hasil pertemuan G-20, Akhirnya disepakati beberapa langkah yang perlu diambil untuk mendorong pemulihan ekonomi global. Yang pertama adalah kesepakatan Negara G-20 untuk menekan defisit  anggaran pemerintah selama tiga tahun kedepan, dengan mengurangi anggaran untuk stimulus pertumbuhan ekonomi.

Kesepakatan ini merupakan kemenangan para pemimpin Eropa, China dan Jepang, yang sejak awal lebih peduli ke arah pengelolaan dan pengendalian utang pemerintahan dibandingkan upaya untuk terus memaksakan pertumbuhan ekonomi dengan terus mendorong stimulus fiskal seperti yang diharapkan oleh pemerintah AS.

Kesepakatan ini sedikit mengecewakan Negara berkembang seperti brazil. Menurut Menteri Keuangan Brasil Guido Mantega, Apabila Negara-besar besar dunia seperti Uni eropa, China, dan Jepang mengurangi stimulus ekonomi mereka dan lebih fokus terhadap penyesuaian fiskal dalam negerinya maka dikhawatirkan proses pemulihan ekonomi dunia secara menyeluruh akan menjadi sangat lambat.

Selanjutnya para pemimpin G-20, sepakat untuk menghindari segala bentuk 'proteksi pasar' serta sepakat untuk mendorong hubungan perdagangan antar regional ditengah gencarnya pemotongan anggaran stimulus ekonomi yang dilakukan oleh masing-masing negara.

Kesepakatan ketiga adalah para pemimpin G-20, yang merefleksikan 85% dari ekonomi dunia sepakat untuk memperkuat struktur permodalan terhadap sistem perbankan di Negara nasing-masing. Para pemimpin Negara G-20 sepakat sistem perbankan kedepan akan terus didorong untuk meningkatkan pengawasannya terhadap para "hedge fund", perusahaan pemeringkat kredit dan transaksi-transaksi berbasis derivatif. Pengawasan ini diharapkan dapat mengurangi resiko yang dihadapi sektor perbankan, khususnya di tengah kondisi pemulihan ekonomi yang masih sangat labil dan rapuh.

"Ditengah rendahnya antusiasme investor terhadap hasil pertemuan G-20 tersebut, Sentimen penting lainnya yang akan menjadi trigger pergerakan bursa dunia serta IHSG minggu ini adalah data dari ekonomi AS yang akan dirilis minggu ini," ujar Fikri.

Seperti diinformasikan, minggu ini pemerintah AS akan merilis beberapa indikator ekonomi penting negaranya meliputi data pertumbuhan pekerjaan, angka pengangguran serta data belanja konsumen. Dari data tersebut, pasar memprediksi untuk bulan Juni jumlah pekerjaan non-pertanian akan turun menjadi 110.000 pekerjaaan, sebagai dampak dari pengurangan pekerja disektor pemerintah.

Disisi lain pasar juga memprediksi angka pengangguran di AS bulan ini akan naik menjadi 9,8% setelah bulan lalu berada pada angka 9,7%. Angka ini tidak berbeda jauh dibandingkan angka pengangguran terendah AS pada bulan oktober tahun lalu diangka 10,2%.

Sedangkan satu-satunya peluang sentimen positif datang dari prediksi meningkatnya konsumsi masyarakat AS di bulan Mei, prediksi tersebut merupakan kabar baik mengingat peningkatan belanja konsumen menggambarkan meningkatnya kepercayaan masyarakat di AS untuk terus bertransaksi sehingga dapat terus mendorong tumbuhnya pasar dalam negeri.

"Minggu ini para investor diseluruh dunia akan fokus menanti realisasi dari data tersebut diatas untuk melihat kemampuan ekonomi AS dalam mendorong pemulihan ekonomi. Para investor masih akan terus fokus terhadap informasi penting dari AS mengingat hingga saat ini ekonomi AS masih merupakan benchmark terhadap upaya pemulihan ekonomi dunia," paparnya.

 
  • Exchange Rates 1
  • Exchange Rates 2

(Monday) 06-February-2012 / 09:00 WIB
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
Flag
Currency
We BUY
We SELL
us USD 8985 9005
au AUD 9600 9670
sg SGD 7190 7220
hk HKD 1155 1170
cn CNY 1425 1435
eu EUR 11.730 11.830
tw NTD 300 310
th THB 290 295
jp JPY 117,0 118,0

(Monday) 06-February-2012 / 09:00 WIB
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
Flag
Currency
We BUY
We SELL
gb GBP 14.000 14.300
ca CAD 9000 9020
ch CHF 9800 9820
sa SAR 2300 2500
nz NZD 7420 7460
my MYR 2940 2990
ph PHP 200 215
se SEK 1389 1438
dk DKK 1883 1955

Copyright © 2012. Authorized Money Changer | Indonesia Money Changer - PT. ALFA VALASINDO. Developed by SDTech

Login To Site Here



Register



*
*
*
*
*

Fields marked with an asterisk (*) are required.