EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 14.160
14.190
au AUD 10.140 10.190
sg SGD 10.470 10.490
hk HKD 1.810 1.820
cn CNY 2.090 2.098
eu EUR 16.120 16.180
tw NTD 467 471
th THB 448 452
jp JPY 130.5 131

 

 

(Thursday) 17 Januari 2019
  16:50 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4

 

 

EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.220 18.410
ca CAD 10.620 10.750
ch CHF 14.240 14.370
sa SAR 3.770
3.790
nz NZD
9.520 9.660
my MYR 3.460
3.470
ph PHP 265 278
kr KRW 12.6

12.8

bnd BND 10.340 10.470

 


 

Rupiah Menguat 5% Tahun Ini, BI: Jangan Terlena

Maikel Jefriando - detikfinance
Senin, 28/03/2016 13:05 WIB
 
Rupiah Menguat 5% Tahun Ini, BI: Jangan TerlenaFoto: Alfathir Yulianda
Jakarta -Selama 2016, nilai tukar rupiah masih berada dalam tren menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Terhitung 14 Maret 2016, rupiah menguat sampai dengan 5,26% (year to date/ytd) seiring dengan derasnya aliran modal masuk ke Surat Berharga Negara (SBN) dan pasar saham.

Demikianlah diungkapkan Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Hendar dalam acara seminar Penggunaan instrument derivatif dari lindung nilai atas resiko nilai tukar di Kantor Pusat BI, Jakarta, Senin (28/3/2016).

"Nilai tukar kita relatif membaik, dengan terapresiasi sebesar 5,26% secara ytd," ujar Hendar.

Akan tetapi, bukan berarti kondisi ini tanpa risiko. Terutama terhadap perusahaan dengan utang luar negeri yang sangat besar. Diharapkan perusahaan mau melakukan lindung nilai terhadap mata uang atau hedging, agar tidak menjadi kerugian di kemudian hari. Baik terhadap Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta.

"Di tengah sentimen positif yang terus berlangsung di pasar keuangan, tentunya kita tidak boleh terlena," tegasnya.

Hendar mengingatkan ketika periode 2013, saat tiba-tiba rupiah melemah signifikan. Sehingga membuat banyak perusahaan yang mengalami kerugian akibat selisih kurs. PT PLN persero rugi Rp 29,56 triliun, Krakatau Steel Rp 777 miliar. Kemudian Garuda Indonesia dengan keuntungan turun menjadi Rp 6,84 miliar dari Rp 1,4 triliun pada 2012.

"Masih banyak tantangan besar yang perlu dicarikan solusi bersama-sama agar lindung nilai dapat berjalan dengan baik. Meski volume transaksi di pasar derivatif mulai meningkat, jumlah likuiditas valas domestik masih harus kita tingkatkan agar lebih liquid dan menghasilkan harga yang efisien," terangnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00