EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 14.200
14.220
au AUD 10.760 10.790
sg SGD 10.580 10.600
hk HKD 1.809 1.819
cn CNY 2.219 2.229
eu EUR 16.680 16.700
tw NTD 473
478
th THB 444 447
jp JPY 129,7 130,7
(Thursday) 24 Mei 2018 
10:10 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 19.110
19.160
ca CAD 11.100 11.150
ch CHF 14.360 14.410
sa SAR 3.770
3.800
nz NZD
10.000 10.050
my MYR 3.560
3.580
ph PHP 267 277
kr KRW 13

13.2

bnd BND 10.570 10.590


 

Nilai Tukar Ringgit Malaysia Diprediksi Masih Anjlok pada 2017

NEW YORK, KOMPAS.com - Selain mata uang peso Filipina, mata uang ringgit Malaysia adalah jajaran mata uang berkinerja terburuk di Asia Tenggara sepanjang tahun 2016.

BMI Research memprediksi nilai tukar ringgit masih akan melemah pada tahun 2017 ini.

Mengutip Bloomberg, Kamis (5/1/2017), alasannya adalah ringgit terpengaruh oleh mata uang yuan China yang tetap akan tertekan ke bawah.

Selain itu, ada juga kecenderungan menipisnya perbedaan anrara suku bunga riil AS dan Malaysia, di mana ada probabilitas ditahan, sementara suku bunga AS ada kemungkinan naik 50 basis poin.

BMI Research pun menyatakan pelemahan lebih lanjut di pasar obligasi global juga akan menekan ringgit lebih dalam. Pasalnya, 40 persen obligasi Malaysia dimiliki oleh asing.

BMI telah menurunkan proyeksi untuk ringgit, di mana diekspektasikan rerata pada level 4,50 per dollar AS pada tahun ini dan 4,40 per dollar AS pada tahun 2018 dari sebelumnya masing-masing 4 dan 3,88.

Sepanjang tahun 2016, ringgit melemah 4,3 persen terhadap dollar AS dan pada tahun 2015 melemah 18,5 persen terhadap dollar AS.

Sejak tahun 2012, ringgit belum pernah mengalami penguatan secara tahunan terhadap dollar AS.

Laporan BMI menyatakan, ekonomi China masih berada dalam perlambatan jangka menengah sejalan dengan pelemahan struktural seperti overkapasitas pada sektor industri dan dominasi BUMN yang tidak efektif.

"Karena China adalah mitra ekspor terbesar Malaysia, kami yakin bahwa ekonomi Malaysia yang didorong ekspor akan tetap terekspos dan terdampak negatif," tulis BMI.

Namun, dalam jangka waktu yang lebih panjang, ada kemungkinan ringgit menguat, didorong oleh penguatan harga komoditas seperti minyak dan membaiknya perdagangan.

Menurut BMI, ini baik untuk investasi. Selain itu, posisi fismal Malaysia yang relatif positif terhadap AS juga bisa membantu menjaga tekanan inflasi.

Namun demikian, jika The Fed menaikkan suku bunga lebih cepat maka aliran modal bisa kabur dari Malaysia dan kembali menekan ringgit.

Di samping itu, BMI memandang pemerintahan presiden terpilih AS Donald Trump juga meningkatkan kecenderungan perlambatan perdagangan global.

Sektor ekspor Malaysia pun bisa "menderita" jika kebijakan proteksionisme diberlakukan.

Penulis : Sakina Rakhma Diah Setiawan
Editor : Aprillia Ika
Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00