EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 15.185
15.210
au AUD 10.810 10.865
sg SGD 11.025 11.055
hk HKD 1.943 1.951
cn CNY 2.194 2.203
eu EUR 17.510 17.560
tw NTD 494 498
th THB 465 469
jp JPY 135.5 136.2
(Thursday) 18 October 2018
  17:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 19.905 20.045
ca CAD 11.585 11.725
ch CHF 15.210 15.350
sa SAR 4.020
4.050
nz NZD
10.000 10.140
my MYR 3.670
3.690
ph PHP 278 286
kr KRW 13,5

13,8

bnd BND 11.005 11.035


 

Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Kamis, 06/08/2015 16:25 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.500, BI: Kami Sudah Turun ke Pasar
Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat hingga di kisaran Rp 13.530. Kondisi tersebut diperburuk dengan kondisi perekonomian Indonesia yang melambat. Di kuartal II-2015, pertumbuhan ekonomi hanya 4,67% atau lebih rendah dari kuartal I-2015 sebesar 4,71%.

Apa yang dilakukan Bank Indonesia (BI) selaku otoritas moneter merespons pelemahan rupiah ini?

"Kita sudah turun ke pasar," kata Direktur Kebijakan Makroprudensial BI Yati Kurniati dalam Infobank Outlook Midyear 2015, Gairah Baru Bisnis Otomotif dan Properti Nasional, di Hotel Le Meridien, Jakarta, Kamis (6/8/2015).

Yati menjelaskan, pihaknya selaku otoritas moneter sudah melakukan berbagai langkah dan kebijakan dengan menggelontorkan cadangan devisa untuk bisa menekan volatilitas rupiah.

"BI sudah melakukan intervensi dan kebijakan intervensi untuk menjaga volatilitasnya, kita tidak mau menggarami air laut jadi kita melihat apa yang menjadi penyebab nilai tukar, kapan kita masuk, kapan kita melepas cadangan devisa kita," jelas dia.

Yati menyebutkan, perlambatan perekonomian saat ini terjadi tidak hanya di dalam negeri namun juga secara global. Untuk itu, pihaknya melakukan kebijakan-kebijakan untuk tetap memberikan optimisme di pasar keuangan.

"Kebijakan kami untuk menumbuhkan optimisme. Tugas kami menjaga supaya perlambatan tidak berlangsung terus dan berupaya optimis. Kalau semua pesimis, jadi terbawa makin terperosok," katanya.

Tantangan perekonomian global, kata dia, tentu menekan perekonomian Indonesia. Negara-negara tujuan ekspor Indonesia seperti China juga tengah melambat, hal ini berdampak pada nilai ekspor Indonesia.

"Negara-negara yang melambat negara-negara partner dagang utama yang menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekspor, harga komoditas turun, di mana ekspor kita tergantung komoditas, permasalahan semakin kompleks," katanya.

Meski begitu, Yati meyakini, perekonomian Indonesia ke depan akan bisa pulih dengan dorongan pemerintah melalui percepatan proyek-proyek infrastruktur.

"Ekonomi Indonesia dalam jangka pendek akan membaik, jangka menengah akan meningkat dengan didukung oleh reformasi struktural," imbuhnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00