EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 15.185
15.210
au AUD 10.810 10.865
sg SGD 11.025 11.055
hk HKD 1.943 1.951
cn CNY 2.194 2.203
eu EUR 17.510 17.560
tw NTD 494 498
th THB 465 469
jp JPY 135.5 136.2
(Thursday) 18 October 2018
  17:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 19.905 20.045
ca CAD 11.585 11.725
ch CHF 15.210 15.350
sa SAR 4.020
4.050
nz NZD
10.000 10.140
my MYR 3.670
3.690
ph PHP 278 286
kr KRW 13,5

13,8

bnd BND 11.005 11.035


 

Dolar AS Tembus Rp 13.542, Ini Penyebabnya

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Jumat, 07/08/2015 12:20 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.542, Ini Penyebabnya

Jakarta -Dolar Amerika Serikat (AS) terus menguat terhadap nilai tukar rupiah. Pagi tadi, dolar AS dibuka naik di posisi Rp 13.542, lebih tinggi dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.539 per dolar AS.

Sepertinya pergerakan dolar AS ini masih akan terus menguat, seiring dengan rencana kenaikan suku bunga oleh bank sentral AS, yaitu The Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan akan terjadi pada September 2015.

Kepala Ekonom Mandiri Sekuritas Destry Damayanti menyebutkan, tak ada faktor yang lebih dominan yang dapat mempengaruhi pergerakan rupiah selain rencana kenaikan Fed fund rate tersebut. Isu ini telah menenggelamkan seluruh mata uang negara di dunia tak terkecuali rupiah.

"Ini global fenomena. Pengaruh global tidak bisa dihindari. Suku bunga AS akan naik di September, ada ketakutan soal ini," katanya kepda detikFinance, Jumat (7/8/2015).

Destry menjelaskan, selain rencana kenaikan suku bunga AS, perekonomian China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia juga tengah mengalami perlambatan. Harga komoditas yang menjadi andalan ekspor Indonesia terus merosot. Ini menekan ekspor Indonesia sehingga pasokan dolar AS juga minim.

Di sisi lain, kata Destry, para eksportir masih enggan menyimpan dananya di perbankan Indonesa. Mereka lebih tertarik menaruh uangnya di perbankan luar ngeri yang dianggap lebih menguntungkan. Tak heran, pasokan dolar AS banyak lari ke luar negeri. Likuiditas valas di dalam negeri menjadi kering.

Sementara dari sisi domestik, Destry menyebutkan, pelemahan rupiah sangat dipengaruhi oleh faktor supply dan demand. Pasokan dolar AS di dalam negeri minim sementara permintaan tinggi. Pembayaran utang dalam kurs dolar AS juga tinggi.

"Bayar utang tidak bisa dihindari," katanya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, Destry mengungkapkan, investor asing mulai menghitung ulang untung-ruginya untuk tetap menyimpan dananya di dalam negeri. Kemungkinan The Fed untuk menaikkan suku bunganya menjadi alasan banyak terjadi capital outflow baik melalui obligasi maupun saham.

"Arus modal banyak yang keluar lewat obligasi dan saham. The Fed membuat investor asing kalkulasi ulang, mereka menarik dananya ke luar karena mereka berpikir dolar AS akan terus apresiasi, ini bikin rupiah melemah," jelas Destry.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00