EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.860
13.910
au AUD 10.675 10.705
sg SGD 10.465 10.485
hk HKD 1.776 1.786
cn CNY 2.172 2.182
eu EUR 16.460 16.490
tw NTD 465
470
th THB 438 441
jp JPY 128 129
(Friday) 08 Juni 2018 
09:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.745
18.795
ca CAD 10.800 10.850
ch CHF 14.225 14.275
sa SAR 3.725
3.755
nz NZD
9.965 10.015
my MYR 3.515
3.525
ph PHP 262 272
kr KRW 13.1

13.3

bnd BND 10.450 10.470


 

Dunia Diguncang Perang Mata Uang, Apa Itu?

Dewi Rachmat Kusuma - detikfinance
Kamis, 20/08/2015 10:40 WIB
Dunia Diguncang Perang Mata Uang, Apa Itu?
 

Jakarta -Dunia tengah dalam tekanan perekonomian. Berbagai negara berlomba-lomba melemahkan mata uangnya.

Bukan tanpa alasan, pelemahan mata uang ini sengaja dilakukan untuk meningkatkan daya saing ekspor. Dengan pelemahan mata uang, harga barang-barang ekspor negaranya menjadi murah.

Negara yang baru-baru ini melakukan hal tersebut adalah China. Negeri tirai bambu tersebut mendevaluasi mata uangnya hingga lebih dari 3%.

Kemarin, langkah serupa dilakukan Vietnam yang dengan sengaja melemahkan mata uang dong agar barang ekspornya bisa bersaing. Langkah seperti ini yang memicu perang mata uang alias kurs.

Lantas, apa sih perang kurs itu? Apa dampaknya bagi Indonesia? Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA) David Sumual mengatakan, perang kurs ini berawal dari krisis global di tahun 2007-2008 yang ditandai dengan jatuhnya Lehman Brothers, juga diikuti lembaga keuangan lainnya.

Kebangkrutan itu membuat Amerika Serikat (AS) resesi. Negeri adidaya tersebut perlu melakukan solusi untuk tetap membuat perekonomiannya tumbuh dengan menurunkan tingkat suku bunga acuan hingga nol persen.

Tapi apalah daya, nyatanya perekonomian AS stagnan. AS kembali mencoba cara lain yaitu dengan menggelontorkan dolar AS ke pasar melalui cetak uang besar-besaran yang biasa dikenal dengan istilah Quantitative Easing (QE).

"Saat itu likuiditas berlebih, dolar AS melemah dan itu mendongkrak ekspor AS," ujar David kepada detikFinance, Kamis (20/8/2015).

Hal yang sama juga dilakukan Jepang. Negeri sakura itu sengaja mencetak uang besar-besaran untuk melemahkan yen. Begitu juga dengan Eropa yang juga membuat kebijakan Quantitative Easing (QE) untuk menumbuhkan perekonomiannya.

"Semua berlomba-lomba melemahkan mata uangnya," katanya.

David mengatakan, kondisi demikian itu, di mana semua negara berlomba-lomba melemahkan mata uangnya, hal itulah yang disebut perang mata uang. Kondisi di mana mata uang menjadi murah untuk meningkatkan daya saing ekspor.

Hal yang terjadi saat ini juga sama. Mata uang China sudah terlalu kuat. Dari tahun 2005 hingga saat ini, apresiasi yuan sudah mencapai 33%. Ini membuat mata uang Yuan semakin mahal dan barang-barang ekspor China tidak bisa bersaing. Akibatnya, ekspor China di bulan Juli 2015, turun 8,3%.

AS tidak akan tinggal diam. Negeri Paman Sam tersebut juga akan mencari solusi agar barang ekspornya tetap bisa bersaing. Kemungkinan, kata David, AS akan menahan untuk menaikkan tingkat suku bunganya. Dengan tidak menaikkan suku bunganya, dolar AS bisa melemah.

"Jadi semua saling berlomba dalam rangka mendapatkan mata uang yang lebih murah sehingga barang-barangnya laku di pasar global," terang David.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00