EXCHANGE RATE 1
Flag Currency
We BUY We SELL
us USD 13.860
13.910
au AUD 10.675 10.705
sg SGD 10.465 10.485
hk HKD 1.776 1.786
cn CNY 2.172 2.182
eu EUR 16.460 16.490
tw NTD 465
470
th THB 438 441
jp JPY 128 129
(Friday) 08 Juni 2018 
09:00 wib
*( Kurs setiap waktu bisa berubah )*
currency exchange4
EXCHANGE RATE 2
Flag Currency
We BUY We SELL
gb GBP 18.745
18.795
ca CAD 10.800 10.850
ch CHF 14.225 14.275
sa SAR 3.725
3.755
nz NZD
9.965 10.015
my MYR 3.515
3.525
ph PHP 262 272
kr KRW 13.1

13.3

bnd BND 10.450 10.470


 

Kondisi Bank RI Lebih Kuat dari Krisis 2009

Muhammad Idris - detikfinance
Sabtu, 18/07/2015 14:41 WIB
Kondisi Bank RI Lebih Kuat dari Krisis 2009
Foto: Plt Kepala Eksekutif LPS Fauzi Ichsan (Idris-detikFinance)
Jakarta -Tak bisa dipungkiri kondisi perekonomian saat ini sedang melambat. Di semester II-2015, banyak pihak berharap pemerintah mengebut serapan APBN untuk mendorong pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%. 

Plt Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Fauzi Ichsan mengatakan, meski ekonomi melambat, namun kondisi Indonesia jauh lebih baik dibandingkan saat krisis keuangan global menghantam pada 2008/2009 lalu. Saat krisis 2009 saja, Indonesia mampu tumbuh 4,5%.

"Sekarang CAR (Capital Adequacy Ratio/Rasio Kecukupan Modal) perbankan lebih tinggi, di kisaran 19%. Jadi jauh lebih kuat daripada krisis keuangan global yang dulu," jelas Fauzi, saat ditemui usai menghadiri open hous di kediaman Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta, Sabtu (18/7/2015).

Saat krisis 2009 lalu, CAR perbankan adalah 17%. Fauzi mengatakan, CAR yang tinggi ini bisa menjadi bantalan bila pertumbuhan ekonomi turun. Pembangunan infrastruktur oleh pemerintah saat ini menjadi harapan pendorong perekonomian.

Rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) perbankan di Indonesia saat ini juga masih rendah yaitu 2-3%. Besaran NPL bisa ditekan di bawah 3% bila pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5%.

Kenapa NPL bank naik? Fauzi mengatakan, ada beberapa bank yang naik NPL-nya karena turunnya harga komoditas, seperti batu bara dan sawit. Penurunan harga komoditas membuat perusahaan komoditas berkurang kemampuannya untuk membayar kredit bank. Sehingga bank yang banyak memberi kredit ke sektor ini naik NPL-nya.

"Ada yang karena pembangunan infrastruktur lambat, sementara konstruksi terhambat NPL naik, jadi tiap bank punya eksposur yang beda-beda. Bagi bank yang eksposur besar pada komoditas memang harus lakukan revisi NPL dan melakukan rights issue, yang NPL besar. Tapi bagi bank yang kena ekposur karena infrastruktur, harapannya sama pembangunan infrastruktur sisa tahun ini dan tahun depan akan bisa membantu tekan NPL," papar Fauzi.

Karena itu menurut Fauzi, kenaikan NPL bank bukan karena bunga kredit yang tinggi, tapi karena perlambatan ekonomi. Meski bunga kredit turun di tengah kondisi ekonomi yang turun, NPL tetap bisa naik.

"Jadi sekarang kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi harus dipercepat, antara lain dengan pembangunan proyek infrastruktur. Bukan sesuatu yang baru," katanya.

Dia mengatakan, ancaman ekonomi dari luar negeri saat ini mulai berkurang. Karena krisis utang Yunani perlahan sudah mulai selesai. Sekarang, yang diharapkan pelaku ekonomi adalah percepatan pembangunan infrastruktur. Jadi daya serap APBN menjadi kuncinya. 

Kemarin, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, hingga H-1 lebaran, pemerintah sudah membelanjakan anggaran Rp 820 triliun. Ini berarti 41% anggaran digunakan, dari total APBN-P 2015 yang sebesar Rp 1.984,1 triliun.

Sementara soal perlambatan ekonomi di China, menurut Fauzi, tidak akan emmicu resesi ekonomi dunia. Dampaknya hanya pada turunnya harga komoditas.

"Karena lihat ekonomi global masih 7%. China melambat kan ada Eropa, Jepang, AS mereka masih relatif bagus," jelasnya.

Opening Time   
Day Monday to Friday
Office Hour 08:00 - 17:00